Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Hukum Kasih Lebih Enak dan Ringan?

Kata "kuk" dipakai baik secara harfiah maupun kiasan. Kuk adalah kerangka kayu yang dipikulkan kepada binatang Lembu, banteng atau Kuda. Maka, dalam arti metaforis, "kuk" dikenal oleh bangsa Israel adalah sebagai "beban". Kuk juga bermakna kias sebagai "hukum" yang harus dipikul. Pengarang Injil Matius juga menggunakan kata "kuk" sebagai kiasan dari hukum kasih yang diajarkan oleh Yesus. Di mana dalam Injil Matius, Yesus mengundang semua orang yang letih lesu untuk belajar padanya dengan memikul kuk yang di pasang oleh Yesus. Kuk dari Yesus dikatakan oleh pengarang Injil Matius sebagai lebih enak dan ringan (Matius 11:29-30). Kafir Kristen pemuja Yesus menganggap hukum dalam Taurat sangat berat dan melelahkan, itu karena hukum Taurat hanya menekankan sifat-sifat lahiriah semata. Mereka menganggap hukum kasih yang diajarkan oleh Yesus lebih enak dan ringan. Bayangkan, hukum Taurat yang jika di rinci dapat mencapai 613 hukum, dengan hukum kasih yang diajarkan Yesus, mereka tidak perlu lagi harus menjalankan perintah dan menjauhi larangan hukum Taurat. Mereka cukup berbuat kasih yang dengan demikian sudah di anggap menjalankan seluruh hukum Taurat dengan sempurna. Dengan hukum kasih ajaran Yesus, mereka dapat hidup bebas tanpa ikatan hukum Taurat yang bersifat lahiriah. Kafir Kristen pemuja Yesus dapat melakukan apa pun yang mereka suka dan mau mereka lakukan tanpa merasa berdosa dan takut akan masuk neraka. Mungkin itulah kenapa pengarang Injil Matius mengatakan hukum yang diajarkan Yesus itu enak.


Kafir Kristen pemuja Yesus menganggap hukum dalam Taurat sangat berat dan melelahkan, itu karena hukum Taurat hanya menekankan sifat-sifat lahiriah semata. Mereka menganggap hukum kasih yang diajarkan oleh Yesus lebih enak dan ringan karena penekanan bukan pada bentuk lahiriah, akan tetapi lebih kepada rohaniah. Kafir Kristen menganggap hukum kasih lebih enak dan ringan, itu karena mereka tidak pernah menjalankan hukum kasih dengan sebenarnya. Yang mereka tahu dari hukum kasih itu cuma mengasihi, asal dapat mengasihi orang lain, mereka sudah merasa telah menjalankan hukum kasih yang diajarkan oleh Yesus. Padahal menjalankan hukum kasih yang diajarkan oleh Yesus tidak semudah seperti yang mereka bayangkan. Menjalankan hukum kasih tidak semudah seperti mereka mengucap, kasih. Sebagai contoh, pernah pada suatu hari datanglah Petrus kepada Yesus dan berkata kepadanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus menjawab pertanyaan Petrus dengan berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (Matius 18:21-22). Inilah ajaran kasih yang diajarkan oleh Yesus kepada muridnya yang bernama Petrus. Dalam ajaran Yesus ini, mengampuni orang yang berdosa kepada kita tidak cukup satu kali, tiga atau tujuh kali, Yesus mengajarkan untuk mengampuni orang yang berdosa harus sampai tujuh puluh kali tujuh. Hukum Yesus ini mengharuskan seorang Kristen yang teraniaya oleh perbuatan orang lain tidak dibolehkan menghukum atau menuntutnya dalam persidangan. Orang itu harus di ampuni sampai empat ratus sembilan puluh kali. Jika sampai batas tersebut orang itu masih juga berbuat dosa, saudaranya boleh menghukum atau menuntutnya dalam persidangan.

Di tempat lain Yesus mengajarkan untuk tidak melawan orang yang berbuat jahat. Apabila pipi sebelah kanan kita di tampar, maka bukan cuma pipi kanan, pipi kiri pun harus juga kita biarkan untuk di tampar. Apabila ada orang yang mengingini baju kita, maka bukan cuma baju, jubah pun harus juga kita diberikan. Jika kita di paksa untuk berjalan satu mil, maka kita harus bersedia berjalan lebih jauh dari itu (Matius 5:39-41). Pada ayat-ayat ini Yesus bukan hanya mengajarkan untuk tidak membalas perbuatan jahat walaupun dengan balasan yang setimpal dari perbuatan jahatnya atau sekedar membalas perbuatan jahat dengan perbuatan baik. Akan tetapi, Yesus juga mengajarkan untuk tidak berusaha mencegah perbuatan jahat seseorang kepada kita. Yesus berkehendak supaya kita legowo dan nrimo ketika kita akan di aniaya oleh orang lain. Ketika seseorang mengklaim properti milik kita sebagai miliknya, maka kita harus serta merta memberikannya. Tidak cukup sampai di situ, bahkan kita juga harus memberikan properti kita yang lebih berharga. Tidak boleh ada usaha paling tidak untuk mencegah orang lain memiliki properti yang kita miliki dengan cara-cara yang tidak beradab. Ajaran kasih yang diajarkan oleh Yesus itu bertentangan dengan sifat alamiah manusia, manusia pasti akan berupaya membalas perbuatan jahat seseorang kepadanya, yang pasti tidak akan rela memberikan properti pribadinya kepada orang jahat yang menginginkannya. Manusia akan berupaya dengan sekuat tenaga agar dirinya tidak menjadi korban tindak kejahatan, dan kalau pun takdir menentukannya menjadi korban tindak kejahatan, manusia sekali lagi akan berupaya agar pelaku kejahatan tersebut mempertanggung jawabkan perbuatan jahatnya.

Oleh karena hukum kasih yang diajarkan oleh Yesus dalam Injil bertentangan dengan sifat alamiah manusia, maka tidak akan mungkin seorang Kristen akan mampu untuk menjalankannya. Sebagai bukti, di Papua pernah terjadi penembakan yang berujung maut terhadap seorang pelajar yang bernama Kaleb Bagau. Penembakan tersebut dilakukan oleh aparat kepolisian di kawasan Gorong-gorong Timika. Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua, Irjen (Pol) Paulus Waterpauw telah berupaya memohon maaf kepada keluarga korban, tetapi permohonan maaf tersebut di tolak oleh keluarga. Dengan alasan bahwa semua kasus penembakan di Papua, polisi selalu mengatakan perlu pembuktian hukum, namun kasus demi kasus yang terus terjadi, hukum tidak pernah berlaku adil terhadap masyarakat Papua. Tak hanya itu,  pelaku yang diadili pun hanya formalitas demi memenuhi prosedur hukum sekaligus dalam rangka melindungi rahasia operasi pemusnahan yang sedang dilakukan negara terhadap masyarakat Papua. Penolakan tersebut tak hanya dari ayah korban, Ibu korban juga mengeluarkan pernyataan yang serupa. Ia menolak tegas permintaan maaf Kapolda Papua dan meminta dunia Internasional melihat penderitaan orang Papua. Penolakan permintaan maaf Kapolda Papua oleh keluarga korban ini di dukung oleh komentar-komentar yang muncul, lihat di sini.


Menurut ajaran Yesus yang ada dalam Injil, orang Kristen harus mengampuni orang yang telah berbuat dosa padanya. Tidak boleh membalas perbuatan jahat orang lain dengan cara menuntutnya untuk mempertanggung jawabkan perbuatan jahatnya. Semua orang Kristen tahu akan ajaran Yesus yang ini, tetapi kenapa mereka malah menuntut pelaku kejahatan agar di hukum? Bahkan hanya untuk memaafkan pelaku saja mereka tidak mau, apakah mereka lupa kalau pengampunan dosa bergantung pada bisa atau tidaknya mereka mengampuni kesalahan orang lain (Matius 6:14-15)? Jika hukum kasih itu memang lebih enak dan ringan, tentu semua orang Kristen bisa menjalankannya. Hukum kasih mustahil dapat dijalankan karena bertentangan dengan sifat alamiah manusia. Itulah sebabnya sampai dengan sekarang, ajaran kasih tidak pernah menjadi hukum positif di sebuah negara di dunia ini. Hukum kasih hanya terbatas pada retorika-retorika gereja dan hanya menjadi slogan-slogan agama. 

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Hukum Kasih Lebih Enak dan Ringan?"

  1. Dalam Injil,terlampau banyak kesalahan ilmiah Dan tidal dapat diterima akal yang waras

    BalasHapus

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik; menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.