Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Kasih Yesus Yang Belum Teruji

Nabi Muhammad dan Yesus adalah dua nama utusan Tuhan yang sampai saat ini banyak disebut-sebut karena ajaran yang dibawanya. Sebagian orang-orang Kristen sangat gemar membanding-bandingkan Nabi Muhammad dan Yesus dari segala segi kehidupan mereka, dengan harapan akan banyak umat Islam yang akan berbodong-bondong masuk agama Kristen (murtad). Al-Qur’an ternyata telah menyiapkan jawaban bagi umat Islam dalam menjawab usaha mereka (Kristen) dalam melakukan pemurtadan. Jawaban Allah tersebut dapat kita baca dalam ayat-ayat dibawah ini;

Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (Al-Baqarah: 136)

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." (Al-Baqarah: 285)

Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nyalah kami menyerahkan diri." (Ali ‘Imran: 84)

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nisa’: 152)

Yesus sering kali dipuji oleh umat Kristen sebagai sosok yang memiliki sifat kasih, sampai-sampai mereka tidak sadar, bahwa sifat kasih ini dimiliki juga oleh seluruh manusia, bahkan hewan pun memiliki sifat kasih. Jika hewan saja mempunyai sifat kasih, apa yang dapat diistimewakan dari sifat kasih Yesus? Tak ada! Namun demikian, tentu tidak mudah menyadarkan umat Kristen akan kekeliruan mereka, yang telah lama ‘makan’ dogma gereja secara mentah-mentah. Tentu sah-sah saja mengatakan Yesus penuh kasih, karena sebagai manusia biasa, tentu Yesus memiliki sifat kasih. Namun sifat kasih yang diatributkan oleh umat Kristen kepada Yesus sungguh-sungguh berlebihan, sehingga kita berkewajiban untuk meluruskannya. Untuk itu, mari kita uji sifat kasih Yesus dengan cara membandingkannya dengan sifat kasih Nabi Muhammad, upaya ini bukan saya maksudkan agar dapat mendustakan kenabian Isa Al-Masih sebagaimana orang-orang kafir Kristen kerap melakukan perbandngan-perbandingan dengan tujuan agar dapat mendustakan kenabian Nabi Muhammad.


Kisah kasih Nabi Muhammad dalam penaklukan kota Mekkah


Diawali dari perjanjian damai antara kaum muslimin Madinah dengan orang musyrikin Quraisy yang ditandatangani pada nota kesepakatan Shulh Hudaibiyah pada tahun 6 Hijriyah. Termasuk diantara nota perjanjian adalah siapa saja diizinkan untuk bergabung dengan salah satu kubu, baik kubu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan kaum muslimin Madinah atau kubu orang kafir Quraisy Makkah. Maka, bergabunglah suku Khuza’ah di kubu Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan suku Bakr bergabung di kubu orang kafir Quraisy. Padahal, dulu di zaman Jahiliyah, terjadi pertumpahan darah antara dua suku ini dan saling bermusuhan. Dengan adanya perjanjian Hudaibiyah, masing-masing suku melakukan gencatan senjata. Namun, secara licik, Bani Bakr menggunakan kesempatan ini melakukan balas dendam kepada suku Khuza’ah. Bani Bakr melakukan serangan mendadak di malam hari pada Bani Khuza’ah ketika mereka sedang di mata air mereka. Secara diam-diam, orang kafir Quraisy mengirimkan bantuan personil dan senjata pada Bani Bakr. Akhirnya, datanglah beberapa orang diantara suku Khuza’ah menghadap Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam di Madinah. Mereka mengabarkan tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh orang kafir Quraisy dan Bani Bakr.

Karena merasa bahwa dirinya telah melanggar perjanjian, orang kafir Quraisy pun mengutus Abu Sufyan ke Madinah untuk memperbarui isi perjanjian. Sesampainya di Madinah, dia memberikan penjelasan panjang lebar kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, namun beliau tidak menanggapinya dan tidak memperdulikannya. Dengan adanya pengkhianatan ini, Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam memerintahkan para shahabat untuk menyiapkan senjata dan perlengkapan perang. Beliau mengajak semua shahabat untuk menyerang Makkah. Beliau barsabda, “Ya Allah, buatlah Quraisy tidak melihat dan tidak mendengar kabar hingga aku tiba di sana secara tiba-tiba.”

Setelah sampai di Mekkah, Nabi Muhammad langsung menuju masjidil haram, beliau memerintahkan untuk menghapus gambar-gambar dan mengeluarkan patung-patung dari dalam Ka’bah, Nabi Muhammad menyempatkan shalat di dalamnya sebelum menemui orang-orang kafir Mekkah yang menunggu beliau diluar Ka’bah. Orang-orang kafir Mekkah mengira, kedatangan Nabi Muhammad dengan 10.000 pasukan bersenjata lengkap pasti untuk membalas dendam kepada mereka, lantaran perbuatan keji yang pernah mereka lakukan kepada Nabi Muhammad beserta pengikutnya, tetapi hal ini tidaklah terjadi. Nabi Muhammad keluar Ka’bah menemui orang-oang kafir Mekkah seraya bersabda, “Wahai orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang. Manusia dari Adam dan Adam dari tanah.” “Wahai orang Quraisy, apa yang kalian bayangankan (harapkan) tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?” mereka menjawab, “Yang baik-baik, sebagai saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.” Nabi bersabda, “Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!”

Nabi Muhammad hidup di daerah netral, yang tidak ada penguasa kuat di dalamnya. Pada awal dakwah, Nabi Muhammad sangat terbantu dengan keberadaan paman Beliau yang bernama Abu Thalib, salah seorang pembesar Quraiys, yang bersedia melindungi beliau dari ancaman orang-orang Musyrik Mekkah. Tetapi keadaan berubah setelah paman beliau, Abu Thalib meninggal dunia yang disusul tiga hari kemudian istri beliau khadijah wafat juga. Orang-orang Musyrik Mekkah sudah tidak segan-segan lagi berbuat aniaya terhadap diri Nabi Muhammad dan pengikutnya. Sebagai kaum minoritas, umat Islam pada saat itu tidak dapat berbuat banyak untuk membela diri, Sedapat mungkin hanya bertahan dari berbagai perlakuan kejam orang-orang Musyrik Mekkah. Umat Islam mengalami perkembangan sangat pesat ketika Nabi Muhammad bersama umat Beliau hijrah ke  Habsyah (Madinah), yang diperintah seorang raja bijaksana beragama Nasrani bernama Najasyi Asham bin Abjar, yang memberikan kebebasan umat Islam dalam menjalankan agama dan berdakwah. Seiring berkembangnya agama Islam, maka negeri Habsyah (Madinah) menjadi negeri Islam, negeri yang kuat, dengan Nabi Muhammad sebagai pemimpinnya.   


Kisah kasih Yesus dalam hidupnya


Kisah hidup Yesus di mulai saat dia dilahirkan oleh seorang wanita muda tanpa suami. Semakin besar Yesus, semakin besar pula hikmatnya, dan semakin disayangi oleh manusia. Pada umur 30 tahun Yesus datang kepada Yohanes Pembaptis untuk dibaptis, setelah keluar dari air nampaklah roh kudus dengan rupa burung merpati yang kemudian menyatakan Yesus adalah anak Allah. Yesus mulai berkeliling mengabarkan Injil Kerajaan Allah pada umur 30 tahun setelah dibaptis Yohanes Pembaptis. Dakwah Yesus tidak berjalan lancar sebagaimana nabi-nabi Allah lainnya, walaupu ia sudah sangat banyak bermukjizat. Yesus banyak dibenci oleh orang-orang Saduki, Farisi dan ahli-ahli Taurat karena dakwahnya yang sering mengkritik kemunafikan mereka, oleh karena itu dalam berbagai kesempatan, orang-orang Saduki, Farisi dan ahli-ahli Taurat berusaha untuk menghasut orang-orang Israel awam untuk membenci Yesus. Kepada penguasa Romawi, orang-orang Saduki, Farisi dan ahli-ahli Taurat juga menghasut dengan berkata bahwa Yesus akan mengangkat diri sebagai raja Israel. Tidak hanya cacian dan hinaan, tapi percobaan pembunuhan juga sering dialami oleh Yesus di banyak kesempatan, namun usaha mereka selalu gagal.

Dua hari sebelum paskah, berkumpulah imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi di istana seorang imam besar yang bernama Kayafas. Mereka merundingkan suatu rencana untuk menangkap Yesus dan membunuhnya. Imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi membujuk salah seorang murid Yesus yang bernama Yudas Iskariot untuk menunjukkan tempat persembunyian Yesus dengan imbalan tiga puluh uang perak, Yudas Iskariot bersedia melakukan keinginan imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi dengan imbalan tersebut. Setelah perjamuan Paskah yang pertama, Yesus bersama murid-muridnya pergi ke bukit zaitun. Yesus berkata kepada murid-muridnya, "Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?" mereka menjawab, "Suatupun tidak." Kata-Nya kepada mereka: "Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang”. Tetapi karena keterbatasan, murd-murid Yesus hanya dapat membeli dua buah pedang dan itu dianggap cukup oleh guru mereka. Setelah sampai di bukit Zaitun, Yesus berpesan kepada murid-muridnya untuk berdoa, sedangkan Yesus sendiri berdoa tidak jauh dari murid-muridnya berada. Walaupun Yesus tahu bahwa apa yang akan terjadi pada dirinya adalah nubuat yang harus digenapi, tapi entah mengapa, Yesus merasa sangat ketakutan, lebih-lebih setelah ia tahu murid-muridnya lebih suka tidur dari pada berdoa atau menjaga dirinya.

Tidak lama kemudian datanglah serombongan orang dengan Yudas Iskariot di dalamnya, mengetahui apa yang bakal terjadi, seorang murid Yesus menyerang hamba imam besar hingga putus telinganya. Tetapi Yesus berkata: “sudahlah itu” lalu menjamah orang itu dan menyembuhkannya. Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu, di giring ke rumah imam besar. Orang-orang yang menahan Yesus memukuli dia dan mengolok-oloknya, dan banyak lagi hujatan mereka kepada Yesus. Setelah siang hari, berkumpullah tua-tua bangsa Yahudi, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat lalu menghadapkan Yesus ke mahkamah agama mereka. Yesus ditanya: “Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada kami.” Jawab Yesus: “Sekalipun Aku mengatakannya kepada kamu, namun kamu tidak akan percaya; dan sekalipun Aku bertanya sesuatu kepada kamu, namun kamu tidak akan menjawab. Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa.” Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.” Lalu kata mereka: “Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita ini telah mendengarnya dari mulut-Nya sendiri.” Setelah itu Yesus dibawa kepada Pilatus. Di sana, mereka menuduh Yesus telah menyesatkan bangsa Israel, melarang orang membayar pajak kepada kaisar, dan mengaku dirinya adalah Kristus atau raja. Pilatus yang tidak menemukan bukti kesalahan Yesus, mengirimkan Yesus ke Herodes agar dapat di adili, akan tetapi, Herodes juga tidak menemukan kesalahan Yesus sehingga harus mengembalikannya ke Pilatus. Pilatus ingin membebaskan Yesus karena nyata baginya Yesus tidak bersalah. Tetapi karena orang terus menuntut dengan keras agar Yesus disalib, akhirnya Pilatus mengabulkan tuntutan mereka. Pilatus membebaskan orang yang dipenjara bernama Barabas dan menghukum Yesus sesuai kemauan mereka.

Mereka membawa Yesus sampai di sebuah tempat yang disebut tengkorak, mereka menyalibkan Yesus bersama dua orang penjahat, satu disamping kiri dan satu lagi di samping kanan. Kemudian Yesus berdoa kepada Allah: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Orang banyak berdiri di situ, Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.” Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Dia; mereka mengunjukkan anggur asam kepada-Nya dan berkata: “Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu!” kira-kira jam dua belas sampai jam tiga terjadi kegelapan meliputi daerah tersebut karena matahari tidak bersinar dan tabir bait Allah terbelah menjadi dua. Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: “Sungguh, orang ini adalah orang benar!”

Yesus hidup di sebuah negeri yang dikuasai oleh penguasa Romawi, kerajaan besar dan kuat pada saat itu. Walaupun dikatakan sebagai keturunan Daud namun Yesus sama sekali tidak memiliki orang yang dapat melindunginya dalam berdakwah, bahkan murid-muridnya sekalipun tidak. Bersama murid-muridnya, Yesus berkeliling ke kota-kota Israel untuk mengabarkan Injil, sekaligus sebagai upaya menghindari celaan, cacian dan bahkan usaha pembunuhan atas dirinya. Selama tiga tahun berdakwa, dari lahir sampai dengan kematiannya di kayu salib, Yesus tidak pernah memiliki kekuasaan sehingga dapat membela diri dan pengikutnya dari perbuatan kejam orang-orang Yahudi dan Romawi, walaupun konon Yesus dinubuatkan akan menjadi raja Israel.


Kesimpulan


Dari kisah Nabi Muhammad dan Yesus di atas, dapat saya katakan, kedua-duanya memiliki sifat pengasih dan pemaaf. Tetapi sayangnya, hanya satu orang saja yang benar-benar telah teruji memiliki sifat pengasih dan pemaaf, orang tersebut adalah Nabi Muhammad. Mengapa demikian? Karena Nabi Muhammad memiliki kekuasaan sebuah negeri, dengan banyak pengikut yang begitu loyal kepada Beliau. Namun kekuasaan atau kekuatan yang diberikan kepada Nabi Muhammad tidak digunakannya untuk membalas perlakuan kejam orang-orang Musyrik Mekkah, pada saat Fathul Makkah. Lalu bagaimana dengan Yesus? Dalam kisah di atas Yesus memang terlihat pengasih dan memaafkan orang-orang yang menyalibkannya. Namun perlu di ingat, pada saat memaafkan penyalibnya, Yesus dalam posisi tertindas, tak berdaya, dan teraniaya. Orang yang memaafkan seseorang pada saat orang tersebut tidak dapat membalas, nilainya jauh lebih rendah dari pada orang yang memaafkan seseorang, pada saat orang tersebut memiliki kesempatan berupa kekuatan untuk membalas. Karena Yesus tidak memiliki kesempatan berupa kekuatan untuk membalas orang-orang yang menyalibnya, maka dengan berat hati dapat saya katakan bahwa, sifat kasih dan pemaaf Yesus belumlah TERUJI.       

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kasih Yesus Yang Belum Teruji"

Posting Komentar

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik; menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.