Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini baik Yahudi dan Nashrani mendengar tentangku, kemudian dia meninggal dan tidak beriman dengan agama yang aku diutus dengannya, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka." (Shahih Muslim: 218)

Hidup Seperti Malaikat di Sorga?

Surga digambarkan oleh Islam sebagai sebuah tempat yang penuh kenikmatan sebagai balasan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Di dalam surga terdapat sungai-sungai, istana-istana dan taman-taman. Penduduk surga juga kawin serta makan dan minum. Penggambaran surga dalam Islam yang demikian, membuat kafir pemuja Yesus seolah mempunyai amunisi baru untuk mengolok-olok Islam atau Nabi Muhammad. Mereka berkata bahwa itu adalah surganya orang-orang yang memiliki khayalan mesum tingkat tinggi. Ada pula kafir pemuja Yesus yang berkata bahwa itu adalah surga khayalan Nabi Muhammad yang penuh dengan nafsu kedagingan. Menurutnya, surga itu harus sesuai dengan yang digambarkan oleh Yesus dalam Injil Kristen, yaitu manusia yang hidup di surga itu hidup tanpa nafsu kedagingan, karena di surga manusia itu hidup dalam roh bukan dalam daging lagi. Yesus dalam Injil Kristen memang menyatakan bahwa pada waktu kebangkitan manusia tidak kawin dan dikawinkan, melainkan hidup seperti malaikat (Matius 22:30). Tapi pernyataan Yesus ini kontradiktif dengan banyak keterangan dalam Bible, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.


Manusia di surga dikatakan oleh Yesus hidup seperti Malaikat, sedangkan Malaikat dalam Kristen adalah roh. Jika Malaikat adalah roh, mestinya selain tidak kawin dan dikawinkan Malaikat juga tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan oleh makhluk berdaging seperti manusia, betul?! Sekarang mari kita lihat, apakah Malaikat yang roh itu tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan oleh makhluk berdaging seperti manusia.

Kedua malaikat itu tiba di Sodom pada waktu petang. Lot sedang duduk di pintu gerbang Sodom dan ketika melihat mereka, bangunlah ia menyongsong mereka, lalu sujud dengan mukanya sampai ke tanah, serta berkata: "Tuan-tuan, silakanlah singgah ke rumah hambamu ini, bermalamlah di sini dan basuhlah kakimu, maka besok pagi tuan-tuan boleh melanjutkan perjalanannya." Jawab mereka: "Tidak, kami akan bermalam di tanah lapang." Tetapi karena ia sangat mendesak mereka, singgahlah mereka dan masuk ke dalam rumahnya, kemudian ia menyediakan hidangan bagi mereka, ia membakar roti yang tidak beragi, lalu mereka makan. (Kejadian 19:1-3)   

Pada ayat di atas sangat jelas membuktikan kepada kita bahwa Malaikat yang dikatakan roh mempunyai selera makan seperti halnya makhluk berdaging. Jika Malaikat yang roh itu melakukan perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan oleh makhluk berdaging seperti manusia, yakni makan dan minum, lalu dengan alasan apa Malaikat tidak melakukan perbuatan yang biasa dilakukan oleh makhluk berdaging lainnya, seperti kawin misalnya. Mungkin ada pemuja Yesus yang menjawab bahwa Malaikat pada ayat tersebut mewujudkan diri sebagai manusia sehingga dapat makan dan minum. Saya jawab, walaupun Malaikat itu mewujudkan diri sebagai manusia mereka tetap tidak akan makan dan minum. Sebab walaupun Malaikat itu mewujudkan diri sebagai manusia, tetap saja pada hakikatnya mereka itu Malaikat yang tidak mungkin mempunyai selera makan. Sekarang mari kita bandingkan dengan Al-Qur’an ketika menceritakan dua Malaikat yang akan di utus untuk kaum Nabi Luth as.

Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami (malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: "Selamat." Ibrahim menjawab: "Selamatlah," maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: "Jangan kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth." (QS. Huud: 69-70)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Malaikat menurut Bible dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan oleh makhluk berdaging seperti manusia, hal tersebut menjadi bukti kontradiktifnya pernyataan Yesus di Matius 22:30.

Bukti lainnya yang menambah panjang kontradiktif pernyataan Yesus di Matius 22:30, adalah larang Tuhan kepada Adam dan Hawa agar tidak memakan buah yang terdapat pada pohon yang ada di tengah taman. Jika Adam dan Hawa yang pada saat di surga hidup tanpa nafsu kedagingan melainkan dalam roh, tentu Tuhan tidak perlu melarang Adam dan Hawa makan buah terlarang, karena mustahil bagi Adam dan Hawa yang hidup dalam roh akan memiliki keinginan untuk makan. Bahkan dalam Injil Matius Yesus berkata bahwa dirinya akan meminum anggur dalam kerajaan Allah (Matius 26:29). Di dalam ayat lainnya, Yesus berkata bahwa akan datang banyak orang dari timur dan barat duduk makan bersama Abraham, Ishak dan Yakub di dalam kerajaan Sorga (Matius 8:11). Hidup dalam roh apanya?! Semua keterangan tentang kehidupan di surga yang ada dalam Bible bertentangan dengan pernyataan Yesus di Matius 22:30. Jika manusia dalam surga hidup dalam roh dan tanpa nafsu kedagingan, lalu apa gunanya mereka makan dan minum. Lebih tidak masuk akal bila dikatakan bahwa hidup dalam roh dan tanpa nafsu kedagingan yang di maksud itu hanya sebatas tidak kawin dan dikawinkan saja, sementara untuk makan dan minum manusia yang hidup di surga dapat melakukannya.

Rupanya kafir Kristen pemuja Yesus salah dalam memahami ucapan Yesus di Matius 22:30. Pada ayat tersebut Yesus berkata pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan. Kafir Kristen pemuja Yesus berkesimpulan di sorga orang tidak kawin dan dikawinkan, padahal Yesus tidak berbicara tentang kehidupan di sorga, tetapi berbicara ketika orang-orang dibangkitkan dari kuburnya. Ucapan Yesus di ayat tersebut merupakan jawaban dari pertanyaan orang-orang Saduki. Orang-orang Saduki tersebut bertanya tentang seorang wanita yang pernah memiliki tujuh orang suami, suami manakah yang akan menjadi suami wanita tersebut pada hari kebangkitan? Perhatikan, orang-orang Saduki bertanya mengenai hari kebangkitan, bukan bertanya kehidupan di sorga. Baca ayat-ayat sebelum Matius 22:30.

Walaupun tidak terdapat ayat yang menyatakan bahwa manusia di dalam surga kawin dan dikawinkan dalam surga, namun telah terbukti dengan banyaknya keterangan dalam Bible yang menyatakan manusia dalam surga dapat makan dan minum. Itu artinya manusia hidup dalam surga bukan dalam roh saja, melainkan hidup dengan roh dan tubuh yang baru, itu sebabnya mereka dapat makan dan minum. Jika manusia yang ada dalam surga hidup dengan roh dan tubuh yang baru maka ada kemungkinan manusia yang ada di sana bukan cuma bisa makan dan minum, tetapi bisa juga kawin dan dikawinkan. Hanya saja Bible tidak mampu mengungkapkan kehidupan di surga segamblang Al-Qur’an ketika menceritakan kehidupan surga.   

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Hidup Seperti Malaikat di Sorga?"

  1. Menurut kristen hidup disorga hanya roh saja tanpa raga, sdgkan
    menurut katolik hidup di sorga berupa roh dan raga.

    mengapa bs beda, padahal kedua agama ini sama2 pemuja yesus?

    BalasHapus
  2. Menurut kristen hidup disorga hanya roh saja tanpa raga, sdgkan
    menurut katolik hidup di sorga berupa roh dan raga.

    mengapa bs beda, padahal kedua agama ini sama2 pemuja yesus?

    BalasHapus
  3. tidak ada di alkitab yg menyatakan di sorga hanya roh saja. Yg ada adalah manusia diberikan tubuh baru yg tdk dapat binasa lagi ketika di surga. Adam dan Hawa juga waktu pertama diciptakan tidak pernah di tulis ada di surga. Mereka ada di taman Firdaus yg letaknya di bumi. Itu sebabnya iblis bisa masuk kesana. Kalau disurga, gak mungkin iblis masuk, wong sdh diusir kok bisa seenaknya masuk.

    Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Inilah yg dimaksud dengan kedagingan.

    Perkawinan yg terjadi nanti adalah perkawinan antara Yesus dengan umatNya. Tentunya hal ini berbeda makna dengan makna yg dimaklumkan di dunia, yaitu seks.
    Perkawinan yg dimaksud adalah penyatuan antara Yesus dan umatNya, dimana Yesus menjadi kepala dari umatNya. Penyatuan ini akan terjadi selamanya, tidak dapat diceraikan oleh apapun, dan sifatnya kekal di dalam sorga. Artinya, umat Tuhan akan hidup di sorga bersama Tuhan.

    BalasHapus

Pastikan komentar anda tidak keluar dari topik; menjawab atau menyanggah isi postingan. Komentar di luar itu tidak akan pernah ditayangkan.